Thaif Hanafiah, Pejuang Jambi yang Difitnah

Thaif Hanafiah, Pejuang Jambi yang Difitnah

Saya membaca status seorang teman di Facebook, tepat di pagi hari 60 tahun Provinsi Jambi berdiri.

Begini dia menulis:

“Hari ini 6 Januari..60 th sudah Propinsi Jambi berdiri..Alhamdulillah setiap perayaan HUT Propinsi Jambi, nama H.A.Thaib Hanafiah sebagai salah seorang pendiri Propinsi Jambi masih terus dikenang..apa yang ayahanda lakukan tentulah sangat membanggakan kami sebagai anak-anaknya #HUTPropinsiJambi.”

Kami berkenalan di dunia maya melalui kompasiana. Baru kini saya tahu bahwa teman yang tinggal di Jakarta itu berayahkan seorang pejuang Jambi. Siapa mereka?

Teman saya bernama Aji Najiullah Thaib, ayahnya seperti yang ia tulis di statusnya, HA Thaib Hanafiah. Pernah dengar nama HA Thaif Hanafiah? Saya tak yakin, Anda mengenalnya.

Beruntunglah mereka yang mengikuti kronik Provinsi Jambi dan lekat di ingatannya nama-nama pejuang. Lepasnya Keresidenan Jambi dari Provinsi Sumatera Tengah dan menjadi daerah otonom, adalah kerja bersama pejuang, orang muda, para tokoh Jambi di masa itu. Banyak orang yang menanam andil di sana. Tapi mungkin tak banyak yang namanya dikenal. Dan kita, generasi kini, pun tak banyak tahu. Seperti nama HA Thaif Hanafiah. Ia punya peranan di sana. Namun sejatinya, jejak heroik Thaif sudah teruji sejak zaman kolonial Belanda.

Terlahir di Sarolangun, Thaif Hanafiah turut serta menjadi bagian Tentara Keamanan Rakyat, yang sebelumnya bernama Badan Keamanan Rakyat. Ia kemudian menjadi Komandan Komando Distrik Militer Wilayah Tungkal. Kiprahnya tidak sedikit saat menghadapi Belanda di agresi militer II. Pada Januari 1949, ia keluar masuk parit di Tungkal untuk mengumpulkan pemuda agar mau angkat senjata menjadi sukarelawan.

Cerita menarik terjadi ketika akan dirayakannya HUT ke-3 kemerdekaan Indonesia atau hari dibacakannya Proklamasi di Jambi Hilir. Singkat cerita, bupati ketika itu menghendaki adanya permainan judi saat perayaan. Tujuannya sederhana, tapi caranya tak tepat. Bupati ingin permainan judi digelar sehingga pemasukannya bisa untuk menutupi biaya yang dibutuhkan perayaan HUT RI pada tahun 1947 tersebut.

Rekan Thaif, Mukty Nasruddin menceritakan, keinginan bupati itu mendapat tentangan keras. Termasuk oleh Thaif yang ketika itu berpangkat letnan satu. Penolakan juga disuarakan oleh tokoh alim ulama kharismatik Tungkal kala itu, KH Daud Arif, HA Aziz.
Para ulama bahkan berunjuk rasa meminta bupati membatalkan judi. Namun bupati bersikeras dan mengatakan bahwa judi itu hanya diperuntukkan bagi orang Cina (Maaf bukan SARA, sekadar mengutip rujukan). Kelak, ketika perayaan itu dilaksanakan, bukan orang Cina saja yang bermain.

Seperti lazimnya perjuangan, selalu saja ada anasir, komprador yang jadi pengkhianat bagi bangsanya sendiri. Ingat kisah Raden Matahir. Konon, ia juga dikhianati hingga akhirnya menjemput syahid (insya Allah) setelah dibengkung oleh Belanda. Thaif Hanfiah juga nyaris menjadi korban ulah jahat penjilat.

Ia difitnah, meninggalkan pertempuran di Tungkal dan menyelematkan diri ke Labuhan Dagang bersama stafnya. Padahal kejadian sesungguhnya Thaif bersama pasukan Selempang Merah menyerbu Belanda ke Tungkal. Isu ini membuat ada orang yang ingin menghabisinya namun upaya ini kemudian urung.

Cerita pilu juga mewarnai kehidupan Thaif di tengah gejolak Jambi ketika itu. Ia kehilangan dua orang anaknya dalam waktu yang berdekatan, karena epidemi penyakit saat itu. Demikian pula ketika ia dipindahtugaskan dari Tungkal ke Batang Asai. Thaif muda beserta istrinya hijrah nyaris tanpa bekal apa-apa.

Masih ada sejumlah kisah lain tentang sosok Thaif Hanafiah, termasuk di masa orde baru. Seperti apa? Semoga di lain waktu saya bisa menuliskannnya lagi. (*)

*Foto Thaif Hanafiah, sumber facebook Aji Najiullah Thaib

Terima kasih sudah mampir dan membaca blog ini. Silakan berbagi jika bermanfaat. Jangan lupa kembali ke sini lagi.

Published bydeddy rachmawan

sarjana pertanian peladang kata-kata / pewarta yang lagi belajar-belajar sejarah

No Comments

Post a Comment