Istirahatlah Kata-kata vs Ketika Mas Gagah Pergi

Istirahatlah Kata-kata vs Ketika Mas Gagah Pergi

Jika tak ada mesin ketik 

Aku akan menulis dengan tangan

Jika tak ada tinta hitam

Aku akan menulis dengan arang

 — Wiji Thukul —

Itu adalah penggalan puisi berjudul Penyair yang ditulis Wiji Thukul, 19 Januari 1988. Jujur, saya tak hapal kecuali dengan membuka dulu buku kumpulan puisinya.  Sepakat kan, bahwa pesan puisi itu jelas dan tegas. Berjuanglah! Bahwa ketiadaan sesuatu tak harus membuat surut. Berpikirlah untuk mencari alternatif lain.

Kiranya, itulah yang harus dilakukan oleh mereka yang ingin menonton Istirahatlah Kata-kata di bioskop yang ada di Jambi. Sejak tayang di sejumlah bioskop pada 19 Januari lalu, sepertinya film biografi Wiji Thukul itu belum menunjukkan tanda bakal diputar di sini.

Begitulah Jambi. Kota yang tak besar-besar amat tapi amat-amat kecil namun terus menggeliat. Dengan dua bioskop, WTC 21 dan Cinemaxx, hanya ada sekitar 1.300 kursi di dua bioskop itu. Maka jangan heran kalau ada film yang tak tayang di sini. Terlebih sepertinya  film ini diputar terbatas.

Di media sosial, memang ramai seruan, ajakan untuk nonton bareng Wiji Thukul. Intip saja akun IG istirahatlahkatakata, official akun film ini. Atau ada pula di Facebook juga Twitter. Lalu di Jambi? Kapan? Sejauh mana gerilyanya?

Saya ingin cerita.

Tepat setahun lalu. Juga di bulan Januari. Saya rasa inilah nonton perdana di WTC 21 Jambi by request. By request? ho oh. Saya turut menyaksikannya dan menjadi saksinya.

Ketika Mas Gagah Pergi. Judul film yang diangkat dari fiksi berjudul sama, yang dianggit Helvy Tiana Rosa. HTR. Itulah film yang ditayangkan khusus di WTC 21 atas permintaan. Bukan diminta pejabat pemilik tampuk kuasa bukan pula pengusaha. Eh, pengusaha si sebenarnya sang “provokatornya”. Entrepreneur. Writerpreneur. Itu si Berlian Santosa penulis novel berlatar Jambi, Chan Pi. Pemilik kaos Jakoz dan Pempek Ganteng itulah yang jadi penggerak agar Mas Gagah bisa tayang di Jambi.

sumber: Facebook Berlian Santosa
sumber: Facebook Berlian Santosa

“Full 1 bioskop 4 theater 633 penonton dg pendaftar lebih dari 900 orang. #kmgpthemovie memang dahsyat. #nobarKMGPthemovie bareng @alisyakieb, bupati Tanjabbar Prov Jambi dll. Tx buat teman2 FLP Jambi yg telah berjuang sukseskan acara akbar ini. Alhamdulillah” begitu status Berlian di Facebook-nya setahun lalu.

Menjelang hari H jadwal tayang yang disepakati antara manajemen bioskop dengan Berlian CS, saya sempat ngobrol dengannya. Pihak bioskop meminta 4 studio full baru Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) bisa tayang. Risikonya, jika kuota tiket tak laku ya ditanggung panitia, Berlian CS.  Dalam tenggat waktu yang sikit itulah Berlian bergerilya. Mengajak orang menonton film yang sayangnya dibikin menggantung alias bersambung.  Hasilnya? Seperti yang terlihat di status FB-nya juga gambar yang saya comot dari facebook tersebut.

Sukses? Pecah. Dahsyat. Begitu bahasa om Berlian yang juga jago mendongeng itu. Terlebih bintang utama KMGP yang memerankan Gagah bisa dihadirkan untuk nobar di Jambi.  Turut pula Mbak Helvy. Berlian yang pernah jadi Ketua FLP Jambi memang punya jaringan ke HTR, tuo tengganai FLP. Asal tahu saja, KMGP yang dana produksinya bersumber dari dana patungan bareng-bareng alias crowdunding juga menjadikan Jambi sebagai pundi dananya.

Begitulah. Barangkali saja, sedikit cerita itu bisa menginspirasi. Barangkali ada “martir”  yang mau pasang badan, menggerakkan dan mencari massa agar Wiji Thukul ditayangkan di bioskop di Jambi. Apalagi seturut berita teman saya ini, cuma butuh booking 1 studio full agar Istirahatlah Kata-kata diputar di sini. Aih…receh. Begitu ujaran seorang teman.

Ayo mana militansinya? 🙂

Jika tak ada kertas / aku akan menulis di dinding

jika menulis dilarang/ aku akan menulis dengan pemberontakan dan tetes darah

–Wiji Thukul —

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkunjung ke blog ini untuk tulisan seputar kisah-kisah Jambi di masa lalu yang ditulis dengan bahasa ringan dan populer.  Merasa bermanfaat? Jangan sungkan untuk dibagi. 

 

 

 

 

 

Published bydeddy rachmawan

sarjana pertanian peladang kata-kata / pewarta yang lagi belajar-belajar sejarah

3 Comments

  • avant garde

    Januari 30, 2017 at 9:45 am Balas

    asik ya di jambi ada bioskop haha.. terus terang aku belum tau pengen nonton wiji tukul apa nggak

    • deddy rachmawan

      Januari 31, 2017 at 7:15 am Balas

      kalok boleh tahu, kenapa belum tahu pengen nonton apa enggak bang? 🙂

  • avant garde

    Januari 31, 2017 at 8:59 am Balas

    masih gugling soalnya bang hehehe… bagus ya filmnya ? ini saya dpt bc wa juga sih dr temen… saya nunggu review dr bang deddy aja lah hehe

Post a Comment