Ditanya, yang Anda Ketahui tentang Suku Kubu? Cuma Ini Jawaban Saya

Tau selasar.com kan? Lama tak berselancar di sana, saya menemukan pertanyaan berikut Apa yang Anda ketahui tentang Suku Kubu? Ada sejumlah pertanyaan lain terkait Jambi yang diunggah di sini, tatkala kita klik #Jambi.

Maka, saya coba-coba menjawabnya. Tentu, sesungguhnya banyak sisi yang bisa diangkat. Artinya, jawaban ini pun belum paripurna. Tapi, simak saja.

Eh, kalau ada pertanyaan tentang Jambi atau apapun, boleh  tanyakan ke saya. Bila terbaca Saya akan jawab. Minimal saya jawab, “tidak tahu” hehehe.

Nah ini jawaban saya, yang lebih dulu diposting si Selasar;

Suku Kubu adalah komunitas adat yang banyak mendiami wilayah hutan di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Suku Kubu, disebut sebagai suku asli Jambi, selain Melayu.

Ada sejumlah cerita yang berkembang di masyarakat mengenai asal muasal suku ini. Yang paling popular adalah, bahwa mereka adalah keturunan keluarga kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat.

Adi Prasetijo, dalam bukunya “Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa Etnografi Orang Rimba di Jambi” menyebut, ada berbagai versi cerita terkait asal muasal suku ini.

Orang Rimba di Sungai Makekal mengaku bernenek moyang yang sama dengan orang Melayu di Tanah Garo, yaitu berasal dari buah gelumpung. Tanah Garo berada di Kabupaten Tebo. Nah, buah gelumpung apa itu? Saya tak tahu.

Adapun Orang Rimba Air Hitam, mengaku mereka adalah keturunan orang-orang desa yang lari ke dalam hutan. Lalu, Orang Rimba yang berada di barat Provinsi Jambi berasal dari Sumatera Selatan (Musi Rawas).

Yang terakhir disebut, menurut Adi Prasetijo, mempunyai sejarah asal-usul sama dengan orang Melayu yang melarikan diri ke hutan karena penjajahan.

Terakhir, Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh mengatakan mereka adalah sisa-saia laskar kerajaan Pagaruyung yang dikirim ke Jambi.

Tulisan Van Dongen, lengkapnya HJ Van Dongen, seorang kontrolir Belanda di Sumatera, termasuk tulisan yang pertama membicarakan mengenai suku ini. November 1907, Dongen menulis artikel “De Koeboes ini de Onderadfdeeling Koeboes-Steken der Residentie Palembang”. Ada pula Dr B Hagen yang menulis “Die Orang Kubu auf Sumatra”.

Suku Kubu, Suku Anak Dalam, Orang Rimba, samakah mereka?

Menurut saya sama. Penyebutan Kubu setidaknya telah diperkenalkan oleh Van Dongen, Hagen, juga Waterschoot van Der Gracht.

Semasa Orde Baru, dugaan saya, penyebutan itu diperhalus menjadi Suku Anak Dalam. Penyebutan Anak Dalam merujuk pada tempat tinggal mereka yang ada di dalam hutan atau di bagian dalam. Bukan di tepian sungai yang membelah Provinsi Jambi, Sungai Batanghari. Bukankah, pusat-pusat kota dulunya, berawal dan di dekat dengan sungai.

Adapun penyebutan Orang Rimba, ya anggaplah itu “sesatu yang diada-adakan”. Tapi sepertinya ini sebutan yang lebih tepat dan tak menghilangkan identitas mereka.

Saya berpendapat, penyebutan ini memiliki kaitan historis dengan NGO yang kini kita kenal dengan Warsi. Warsi-lah yang pada 1998 dengan fasilitator pendidikan bernama Yusak Adrian Hutapea, memberi pengajaran kepada suku ini.

Ingat film Sokola Rimba? Ingat Butet Manurung guru Orang Rimba?. Ya, dialah yang dulu pernah di Warsi.

Tabik.

Published bydeddy rachmawan

sarjana pertanian peladang kata-kata / pewarta yang lagi belajar-belajar sejarah

No Comments

Post a Comment