Definisi Kosakata Jambi yang Melenceng di KBBI

Jangan kecewa kalau cuma 51 kosakata  dari Jambi yang masuk di KBBI edisi kelima. Itu artinya, hanya bertambah enam kosakata dari yang sudah ada di KBBI edisi keempat.

Tapi, bagaimana tidak kecewa. Para tokoh adat juga akademisi yang hadir di acara Diseminasi Program Pengayaan Kosakata yang digelar Kemendikbud dan Kantor Bahasa Jambi 18 Juli lalu jelas tampak kekecewaannya. Saya juga demikian.

Sampai-sampai, seorang undangan (saya lupa namanya), beliau dari lembaga adat bertutur kira-kira begini, “Kami duduk dari tadi di sini dengan datuk, lah puluhan kato bahaso Jambi yang kami data.”Continue Reading

Buruk Rupa dan Mendadak Curhat

Seharusnya hari Minggu kemarin, rutinitas pekerjaan sudah membuat jari jemari ini menari di keyboard. Duduk di depan kompi sekira lima jam lebih.  Tapi, akhirnya waktu cuti ditambah dengan libur karena sakit. Capek membaca, akhirnya coba aja menulis apa yang terlintas mumpung dah lama ga menulis. Jadinya, ya tulisan curhat gini.

Benjolan-benjolan kecil yang menyebar nyaris rata di sekujur tubuh penyebabnya.  Benjolan berisi air yang karenanya ia disebut cacar air.  Gatal. Digaruk bisa meletus sebelum waktunya, ditahan  benar-benar menguji nyali.

Continue Reading

Thaif Hanafiah, Pejuang Jambi yang Difitnah

Saya membaca status seorang teman di Facebook, tepat di pagi hari 60 tahun Provinsi Jambi berdiri.

Begini dia menulis:

“Hari ini 6 Januari..60 th sudah Propinsi Jambi berdiri..Alhamdulillah setiap perayaan HUT Propinsi Jambi, nama H.A.Thaib Hanafiah sebagai salah seorang pendiri Propinsi Jambi masih terus dikenang..apa yang ayahanda lakukan tentulah sangat membanggakan kami sebagai anak-anaknya #HUTPropinsiJambi.”

Kami berkenalan di dunia maya melalui kompasiana. Baru kini saya tahu bahwa teman yang tinggal di Jakarta itu berayahkan seorang pejuang Jambi. Siapa mereka?

Teman saya bernama Aji Najiullah Thaib, ayahnya seperti yang ia tulis di statusnya, HA Thaib Hanafiah. Pernah dengar nama HA Thaif Hanafiah? Saya tak yakin, Anda mengenalnya.Continue Reading

Ditanya, yang Anda Ketahui tentang Suku Kubu? Cuma Ini Jawaban Saya

Tau selasar.com kan? Lama tak berselancar di sana, saya menemukan pertanyaan berikut Apa yang Anda ketahui tentang Suku Kubu? Ada sejumlah pertanyaan lain terkait Jambi yang diunggah di sini, tatkala kita klik #Jambi.

Maka, saya coba-coba menjawabnya. Tentu, sesungguhnya banyak sisi yang bisa diangkat. Artinya, jawaban ini pun belum paripurna. Tapi, simak saja.

Eh, kalau ada pertanyaan tentang Jambi atau apapun, boleh  tanyakan ke saya. Bila terbaca Saya akan jawab. Minimal saya jawab, “tidak tahu” hehehe.

Nah ini jawaban saya, yang lebih dulu diposting si Selasar;

Suku Kubu adalah komunitas adat yang banyak mendiami wilayah hutan di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Suku Kubu, disebut sebagai suku asli Jambi, selain Melayu.

Ada sejumlah cerita yang berkembang di masyarakat mengenai asal muasal suku ini. Yang paling popular adalah, bahwa mereka adalah keturunan keluarga kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat.

Adi Prasetijo, dalam bukunya “Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa Etnografi Orang Rimba di Jambi” menyebut, ada berbagai versi cerita terkait asal muasal suku ini.

Orang Rimba di Sungai Makekal mengaku bernenek moyang yang sama dengan orang Melayu di Tanah Garo, yaitu berasal dari buah gelumpung. Tanah Garo berada di Kabupaten Tebo. Nah, buah gelumpung apa itu? Saya tak tahu.

Adapun Orang Rimba Air Hitam, mengaku mereka adalah keturunan orang-orang desa yang lari ke dalam hutan. Lalu, Orang Rimba yang berada di barat Provinsi Jambi berasal dari Sumatera Selatan (Musi Rawas).

Yang terakhir disebut, menurut Adi Prasetijo, mempunyai sejarah asal-usul sama dengan orang Melayu yang melarikan diri ke hutan karena penjajahan.

Terakhir, Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh mengatakan mereka adalah sisa-saia laskar kerajaan Pagaruyung yang dikirim ke Jambi.

Tulisan Van Dongen, lengkapnya HJ Van Dongen, seorang kontrolir Belanda di Sumatera, termasuk tulisan yang pertama membicarakan mengenai suku ini. November 1907, Dongen menulis artikel “De Koeboes ini de Onderadfdeeling Koeboes-Steken der Residentie Palembang”. Ada pula Dr B Hagen yang menulis “Die Orang Kubu auf Sumatra”.

Suku Kubu, Suku Anak Dalam, Orang Rimba, samakah mereka?

Menurut saya sama. Penyebutan Kubu setidaknya telah diperkenalkan oleh Van Dongen, Hagen, juga Waterschoot van Der Gracht.

Semasa Orde Baru, dugaan saya, penyebutan itu diperhalus menjadi Suku Anak Dalam. Penyebutan Anak Dalam merujuk pada tempat tinggal mereka yang ada di dalam hutan atau di bagian dalam. Bukan di tepian sungai yang membelah Provinsi Jambi, Sungai Batanghari. Bukankah, pusat-pusat kota dulunya, berawal dan di dekat dengan sungai.

Adapun penyebutan Orang Rimba, ya anggaplah itu “sesatu yang diada-adakan”. Tapi sepertinya ini sebutan yang lebih tepat dan tak menghilangkan identitas mereka.

Saya berpendapat, penyebutan ini memiliki kaitan historis dengan NGO yang kini kita kenal dengan Warsi. Warsi-lah yang pada 1998 dengan fasilitator pendidikan bernama Yusak Adrian Hutapea, memberi pengajaran kepada suku ini.

Ingat film Sokola Rimba? Ingat Butet Manurung guru Orang Rimba?. Ya, dialah yang dulu pernah di Warsi.

Tabik.

Istirahatlah Kata-kata vs Ketika Mas Gagah Pergi

Jika tak ada mesin ketik 

Aku akan menulis dengan tangan

Jika tak ada tinta hitam

Aku akan menulis dengan arang

 — Wiji Thukul —

Itu adalah penggalan puisi berjudul Penyair yang ditulis Wiji Thukul, 19 Januari 1988. Jujur, saya tak hapal kecuali dengan membuka dulu buku kumpulan puisinya.  Sepakat kan, bahwa pesan puisi itu jelas dan tegas. Berjuanglah! Bahwa ketiadaan sesuatu tak harus membuat surut. Berpikirlah untuk mencari alternatif lain.

Continue Reading