Pak Jokowi, Kalau ke Jambi Ganti Dong Nama Bandaranya

 

Presiden Joko Widodo mau ke Jambi lagi. Bila jadi, ini kali ketiga beliau berkunjung kemari. Pertama saat musim Pilpres. Kedua, saat Oktober tahun lalu saat Jambi dilanda asap. Ketiga, ya tinggal beberapa jam di muka dengan agenda peringatan Hari Koperasi Nasional 21 Juli dan meresmikan terminal baru Bandara Sultan Thaha.

Omong-omong soal agenda meresmikan terminal baru Bandara Sultan Thaha, kiranya alangkah elok bila bukan sekadar meresmikan. Mungkin Jokowi bisa mengambil momentum untuk “sejarah” Jambi. Apo pulak ni….

Sederhana saja. Tampak sepele tapi tidak demikian juga. Soal namo Bandara Sultan Thaha tu na. Seperti yang sudah ditulis di sini. 

Jelas bahwa pahlawan Jambi tersebut bernama bergelar Sultan Thaha Syaifuddin. Bukan cuma Sultan Thaha. Itu seturut Kepres No.079/TK/Tahun 1977 tertanggal 24 Oktober 1977. Tapi, telanjur namo bandaranyo cuma  “Sultan Thaha”.

Continue Reading

Kamar untuk Hasan (satu)

 

Namaku Hasan. Maaf jika aku tak menanyakan nama kalian. Cukuplah aku yang membagi kisahku yang beraroma bunga kamboja. Tak usah pula kalian beringas menyuguhi kekasaran. Duduk sahajalah di pojok kotak gelap lagi pengap ini. Diam dan dengarkan aku!

Aku yakin kalian mengira aku seusia kalian. Paduan keras dan getirnya kehidupan yang membuat aku demikian. Dan lagi jambang yang menyemak lagi centang perenang di wajahku menuakan aku dari usia sesungguhnya. Bak mafia dalam misi penyamaran dengan sesempurna-sempurnanya kamuflase. Gayaku bicara juga membawa kalian  yang mendengar akan hanyut. Aku banyak belajar soal ini.  Aku membius bukan? Masih juga kalian penasaran akan umurku?

Namaku Hasan bin Guntur, anak pertama dengan dua  saudara. Ayahku,kini almarhum, seorang buruh kasar. Ia harus mengeluarkan peluh lebih untuk menghidupi kami. Ia, dan kami sekeluarga harus membayar mahal hidup pemberian Tuhan ini. Begitupun jika kami ingin tetap hidup dalam pendidikan dan sehat.Continue Reading