Tukang Gerobak

Ada saja cara orang tua menakut-nakuti para bocah. Tak terkecuali guru-guru di sekolah dasar.  Bukan dengan makhluk seram. Seperti pagi itu. Saat bapak kepala sekolah memberi pengarahan dari podium ketika upacara bendera.
 
“Kalau kalian malas-malasan tak mau belajar, siap-siaplah jadi tukang gerobak. Mau jadi tukang gerobak?”
 
Tentu pertanyaan itu tak ada yang menjawab.  Kecuali mereka di barsian paling belakang. Menjawab asal dan sekenanya. Dan stigma itu dilengkapi dengan bumbu dan kisah miris pastinya.
 
Sejak saat itu bukan cuma bapak dan ibu guru yang menjadikan pak lek gerobak sebagai  momok saat saat kami lebih doyan bermain ketimbang belajar ataupun mengaji.  Di rumah, orang tua kami sepertinya juga ketularan. Entah kalau mereka menguping pengarahan kepala sekolah. Atau mungkin mereka mendengar suara Pak Kepsek dari pelantang saat belanja sayur di warung Wak Hasan di dekat sekolah.
 
Seperti ketika kami bermain di rumah  Hasim. Ia anak orang agak kaya. Setidaknya lebih berada dari pada kami.
 
“Sudah-sudah. Sudah dulu maennyo. Hari lah sore, mandi trus bel ajar lagi. Mau jadi tukang gerobak?” Begitu emak Jasta menghentikan patil lele yang sedang kami mainkan. Kalau sudah begitu, kami yang masih duduk di kelas 3 SD kabur begitu saja. Pulang tanpa pamit.
 
Di kampungku, ada beberapa orang yang bekerja menarik gerobak.  Pasar  tradisional yang merupakan pasar induk letaknya  hanya satu kilometer dari kampungku. Tukang gerobak itulah yang menjual tenaganya untuk mengangkut belanjaan orang-orang di pasar, khususnya pemilik warung.
 
Ah ternyata momok itu bukan sesuatu yang seram dan wujudnya masih khayali. Begitu aku membatin.  Wajah-wajah tegar dan bergurat tanda kerasnya hidup yang dijalani segera saja terbayang. Ada Wak Tohir, Wak Amat.  Tak terkecuali yang lebih senior Mbah Selamet dan Mbah Karso. Mereka empat sekawan penarik gerobak dari kampungku.
 
*
 
Tentulah bukan kepada laskar gerobak itu kami takut. Yang kami tak ingin adalah menjadi tukang gerobak. Itu saja! Dan yang diminta oleh guru dan emak bapak di rumah juga sederhana. Belajar. Cuma itu.
 
Dan bila ada yang bergeming dengan ancaman itu dia adalah Pepen. Nama lengkapnya Efendi Mulya. Dia bukan juara kelas. Murid biasa-biasa dan sedang-sedang saja. Semua darinya, biasa dan sedang. Sungguh.
 
Dialah yang biasa mendapat rangking  bontot. Juga biasa terlambat datang ke sekolah.  Dia pula yang membuat seisi kelas yang sedang asyik belajar tiba-tiba menoleh ke belakang mencari sumber suara ngorok. Saat orang sedang upacara, ia kerap pingsan.
 
“Kalau aku malah ingin jadi tukang gerobak. Dak masalah,” ujarnya suatu ketika.
 
“Mak jang. Kenapa pula kawan awak satu nih?” kata Ipul keheranan.
 
Lalu, mengalirlah kisah dari mulut Pepen.
 
Waktu itu  Subuh sudah dekat di pengujung.  Seperti  biasa di hari Minggu, aku mencari uang jajan tambahan di pasar. Di tepi jalan depan pasar ada barisan pasukan gerobak  menunggu muatan. Kami semua sibuk masing-masing. Hingga teriakan seorang ibu membuat semua tersentak. Ternyata ia dijambret. Cobaan belum berhenti. Setelah dijambret ia diserempet sepeda motor. Tapi ketika semua orang terhenyak tak beranjak aku melihat dua orang tukang gerobak yang justru bertindak. Yang satu mengejar jambret, satu lagi menolong ibu itu.
 
“Heroik, kayak di film-film,” Pendi diam sesaat.
 
Dengan gesit tukang gerobak mendorong gerobaknya ke jalan sehingga membuat laju jambret bermotor itu terhenti. Mereka menabrak gerobak dan jatuh.
 
“Barulah orang-orang mendekat dan menolong. Lihat keberaniaan tukang gerobak itu. Haruskah kita takut menjadi tukang gerobak?” Pendi bertanya sembari mengedarkan tatapan ke kami.
 
Kami saling pandang lalu bengong.      
Bersambung #Anak-anakOrdeBaru 

 

Penulis Ini Budi dan Surat yang Ia Tinggalkan

Jarang-jarang ada buku pelajaran sekolah dasar yang diingat dalam waktu lama. Itulah dia, buku Pelajaran Bahasa Indonesia era 1980-an dengan tokoh Budi dan keluarganya. Scripta manent verba Volant.

Dan perbincangan mengenai “Ini Budi” kembali ramai. Siti Rahmani Rauf, penulis buku fenomenal itu menghembuskan napas penghabisan, Selasa (10/5).

Nenek Siti, begitu saya memanggilnya, meninggal di usia nyaris satu abad! 97 tahun. Umur panjang, tak kalah panjang dengan karyanya “Ini Budi”.

Saya beruntung pernah menjalin komunikasi dengan Nenek Siti. Perbincangan lewat telepon itu hangat. Padahal tentu kami tak pernah saling kenal ataupun jumpa. Percakapan langsung terbangun dua arah begitu saya sebut Jambi dan ingin mengetahui cerita beliau semasa tinggal di Jambi.Continue Reading