Saiful “Tertipu” Tuan Guru

Saiful  mangkel. Gondok banget.  Saking  jengkel, sumpah serapah keluar dari mulutnya. Padahal ia sedang mengendarai  sepeda motor. Pengendara lain yang kebetulan berpapasan dengannya saat itu tentu akan melihat mulut Saiful komat-kamit.

Saiful merasa tertipu. Sakit. Ekspektasinya terlalu tinggi dihempaskan oleh pandangan yang baru saja ia lihat.

Pria yang ia idolakan itu lho penyebabnya. Ya Tuhan…Sungguh ia tak menduga.

Saat ia pulang sedari menemui temannya di Taman Jomblo, ia melihat pria ganteng berambut cepak itu keluar dari tempat yang penuh dengan anak muda. Ia paham, ruko itu tempat kongkow anak muda laki, perempuan yang sukanya membuang waktu.  Ia mendapati  pria yang banyak memberi inspirasi  melanggar pasal yang ia ajarkan; Jangan buang waktu untuk hal percuma.

Pria itu bernama Maman. Pak Guru Maman,  kadang Tuan Guru Maman ia memanggilnya. Usianya, empat tahun lebih tua darinya. Pak Guru Maman guru anak-anak di kampung, termasuk guru Jamila, anak Saiful.  Itulah kenapa Saiful mangkelnya super. Ia sering mendengar petuah bijak, petatah petitih dari pria yang juga berwirausaha itu.

“Waktu kita ini terlalu singkat kalau cuma dipakai untuk main-main.”

Lain waktu Pak Guru Maman bilang, “Kasihan lihatnya, anak-anak SD ataupun SMA kalau sudah main PS bisa dari pagi sampe sore.”

Eh, kini justru Pak Maman kedapatan keluar dari ruko tempat rental PS.

**

Tak lama setelah menerima uang dari pemilik rental PS, Pak Guru Maman mengambil HP di saku. Saat itulah Saiful melintas dan melihatnya, sedangkan Maman khusuk dengan handphonenya. HPnya jadul sangat, untuk senter pun tak bisa.

“Tuntas Bu, orderan sudah dikirim.” Ia kirimkan SMS kepada istrinya.

Setengah jam sebelumnya, istrinya mengirimi pesan. “Pak tolong anter pempek lima bungkus ke rental PS Dewa. Makacih.”

#sumber foto:garink.com

Sahabat dengan 700 Unta

Pernah suatu ketika, Madinah yang tenang menjadi hiruk pikuk.
Di kejauhan, debu berterbangan. Ada gemuruh menyertainya.

Sempatlah penduduk Madinah mengira ada badai yang akan menyerang mereka.
Tapi, mereka keliru.

Di kejauhan, penyebab gemuruh itu, ada kafilah dagang yang lewat.
Siapa dia?  Ia yang membawa 700 unta. Tidaklah empunya disebut miskin.

Ialah sahabat Abdurrahman bin Auf yang baru tiba dari Syam. Ialah orang kaya tapi tak terbelenggu hartanya. Dialah sahabat yang disebut Rasulullah dalam hadisnya. “Orang kaya, dan akan masuk surga dengan merangkak”

Pernah suatu ketika ia menangis saat akan berbuka.
Ia menyebut nama assyahid Mush’ab bin Umair. Sahabat yang kafannya tak cukup sempurna menutupi. Betapa tidak, jika kain kafan dari selimut itu ditarik untuk menutupi kepala maka kedua kakinya kelihatan.

“Dunia diberikan kepada kami sedemikian rupa. Aku khawatir bila pahala kami telah disegerakan kepada kami di dunia,” kata Abdurrahman bin Auf.

Suatu ketika menjelang ajalnya tiba, ia lah yang berucap dan masih tercatat sejarah “sesungguhnya aku takut tertahan untuk berjumpa sahabat-sahabatku karena banyaknya harta yang aku miliki.”

Benarlah firman Nya, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 262).