Sir Oii…Anasir

berhati-hatilah terhadap para ‪#‎anasir‬ yang melipir di sekitar mu.  pada waktunya sang #anasir justru membuat bawasir (wasir). di luar terlihat gagah lagi nyaman tapi di dalam ketar-ketir. sebabnya ya wasir dari si anasir.

terkadang para anasir serupa nenek sihir. bedanya ia tak punya mantra kecuali ucapan yg kadang menyihir, anasir kerap bekerja dalam diam juga sunyi lalu sekejap ia menjadi sangat nyinyir, diamnya anasir tentulah utk mengkomuflase, sedang nyinyirnya utk meneruskan syair tuannya. syair disusupkan ke inang yg ia isap, selain nyinyir sesekali mencibir. mungkin itu polah para anasir.

simak saja lisannya anasir siapa yg ia sitir, siapa yg dicibir  sesungguhnya ia sedang mencoba mengendalikan setir. kelak anasir mereproduksi dirinya sendiri menjadi komprador. dan dijuallah inang tempat ia menumpang. anasir harus segera dilokalisir. bila tak nak ya di eliminir. tak usah risau tak perlu khawatir krn kelak ia akan kocar-kacir.

membersihkan anasir sama halnya dg bersihkan aliran air, kerjakan di hulu bukan di hilir, anasir boleh jadi seorang pemikir. dengannya iya lalu membombardir inangnya yang lemah pikir. sesat pikir para anasir. tak jarang anasir bermain di banyak air, jangan heran ketika ia tajir. kini anasir menjadi partikelir menjajakan bibir juga buah pikir yg harusnya ia khidmatkan pada tempat dimana ia terlahir, siapa kuasa basmi anasir?

Jambi dan Ketidakseragaman

 

Ini bukan tentang cerminan orde baru yang pada banyak lini kehidupan, mengharuskan kita untuk seragam. Ini mengenai konsistensi semua pihak atas fakta yang menyangkut identitas. Dan konsistensi itu utamanya ditujukan bagi pemerintah daerah di Jambi.

Khawatir  saja, ketidakseragaman yang sudah sejak lama diuar itu membuat distrosi di hari kemudian. Centang perenang ini menyangkut penamaan. Padahal, penamaan tersebut –apakah itu nama jalan, rumah sakit, dst– merujuk  pada nama seseorang, sosok tokoh pula si empunya nama.

Mau contoh?

Ruas jalan di depan kampus Unja Telanaipura, misal. Nama jalan itu oleh pemda dinamai Jalan A Manaf. Pake “f”. Padahal seharusnya A Manap. Publik mafhum, bahwa nama tersebut adalah nama orangtua mantan Wali Kota Jambi dua periode, Arifien Manap. Dan beliau juga pernah menjabat sebagai penjabat Gubernur Jambi lho.

A Manap atau Abdul Manap juga dipakai menjadi nama rumah sakit milik Pemkot Jambi. Kini namanya RSUD H Abdul Manap (seingat saya sih dulu cuma RSUD Abdul Manap). Lihatlah, satunya mengesahkan “A (Abul) Manaf” di pihak lain Abdul Manap, seperti yang seharusnya.

Contoh Lagi.

Kenapa coba, ruas jalan dari  depan Masjid Agung Al Falah hingga rumah dinas gubernur dinamai Jalan Sultan Thaha. Kenapa tak dibuat lengkap,  “Sultan Thaha Syaifuddin”. Toh merujuk pada Kepres penetapan beliau sebagai pahlawan nasional, Kepres No.079/TK/Tahun 1977, tertanggal 24 Oktober 1977 tertulis nama “Sultan Thaha Syaifuddin” bukan cuma Sultan Thaha.

Lalu, (penulisan) nama itu berubah pada perguruan tinggi IAIN –yang tak kunjung menjadi UIN, konon sih masih berproses– bernama IAIN Sulthan Thaha Saifuddin. Eh, bandara kita namanya juga cuma Sultan Thaha. Wajar saja kemudian banyak yang latah menulis Bandara STS. Nah!

Lalu, silakan heran juga melihat penulisan nama Situs Percandian Muarajambi. Muarajambi? Ya, begitulah memang. Nama kabupatennya memang Muaro Jambi. Kok bukan candi Muarojambi atau Muaro Jambi ya? Kalau itu pertanyaanya, saya belum punya jawaban jitu.

Dan tengok saja di sejumlah rambu penunjuk jalan. Tertulis, Candi Muaro Jambi xx Km (sembari diberi tanda panah), misal. Padahal seharusnya Muarajambi.

Itu diantaranya. Iseng saya melisting, beberapa hal yang beda dalam penulisannya. Tentunya ini juga masih memerlukan jawaban.

Keris Siginjei, atau Siginjai atau Si Ginjei, Si Ginjai.

Raden Mattaher atau Raden Mat Tahir.

Putri Selaras Pinang Masak atau Selaro Pinang Masak.

Sijenjang atau Sijinjang.

dst…dst…dst

Memang sepertinya tampak sepele. Tapi di tengah era searching di internet dijadikan rujukan utama (diviral pula), jangan heran ketika frasa yang salah malah banyak terekam si embah google, dan kata itu pula yang “dibenarkan”.

Contoh kasus, pembunuhan sadis terhadap bocah bernama Engeline di Bali. Ya, nama aslinya sesuai identitas kependudukan, Engeline bukan Angeline. Terlanjur basah banyak media lebih dulu menulis “Angeline”. Hasilnya? Coba lihat apa yang disarankan mesin buatan Larry Page dan Sergey Brin. Ketik saja misalnya, “pembunuhan bocah engeline”.

Terkait typo, jadi teringat lelucon yang saya dan mungkin Anda terima melalui aplikasi BBM, WA dan sejenisnya. Humor mengenai tetangga yang memakai wifi tetangganya, dan meminta izin melalui SMS. Walhasil, ndilalah kok tertulis wife bukan wifi. Gubrak!!!

Dalam kasus “ketidakseragaman” tadi, tak perlulah saya membahas, siapa salah kaprah atas penulisan (nama) itu. Demikian pula sebab musababnya.

Omong punya omong Gubernur Jambi yang keenam, siapa ya? Maschun Sofwan,  Masjchun Sofwan atau Maskhun Sofwan?

tabik @derachmawan

Deddy Rachmawan