Arifien Manap, Kenangan dan Ia yang Ditinggalkan

Jelang azan subuh saya mendapat kabar duka itu. Arifien Manap, mantan Wali Kota Jambi meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat. Beberapa jam sebelumnya saya menuliskan namanya di mesin pencari google, mencari tulisan lawas saya mengenai beliau. Sejak mengetahui beliau sakit, muncul niat untuk menulis kenangan saya bersama beliau.

Dan memang beberapa kenangan mengenai  sosoknya kerap muncul. Sekitar empat tahun mendapat pos liputan di Pemkot Jambi, sedikit banyak saya mengenal beliau. Masih segar di ingatan karakter suara mendiang juga gayanya saat diwawancarai.

Yang paling membekas, perbincangan dengan Arifien Manap beberapa hari jelang jabatannya berakhir. Pagi itu sekitar pukul 06.00 atau 06.30. Saya yakin beliau belum sarapan pagi, demikian halnya saya. Nekat dan modal niat saja menyambanginya sepagi itu di kediaman pribadinya. Selain itu, ya menunaikan tugas kantor. Di tempat lama, kami memang diajarkan bertanggung jawab terhadap penugasan liputan.

Mengenakan kaus lengan panjang dan topi, nada suaranya sempat meninggi saat saya utarakan maksud menemuinya. Ah, maaf Pak, ketika itu di batin ini terlintas sekilas bahwa mungkin ini tanda post power syndrom. Tapi yang terjadi kemudian adalah, perbincangan pagi itu santai, juga hangat sehangat matahari pagi yang belum menyengat.

Arifien Manap jelang jabatannya berakhir pada November 2008. Foto Deddy Rachmawan
Arifien Manap jelang jabatannya berakhir pada November 2008. Foto Deddy Rachmawan

Mulailah ia berbicara rencana seusai purna jabatan. Engkau juga memberi pandangan Kota Jambi kedepannya. Kepada pasangan Bambang Priyanto dan Sum Indra engkau juga menaruh harap, seiring kalahnya calon yang engkau jagokan pak, Asnawi AB dan Nuzul Prakasa, keponakanmu.

Saya juga jadi ingat bagaimana agar bisa mewawancaraimu di luar jam dinas. Maka pada hari Jumat tertentu, menunggumu usai salat Jumat di masjid Agung adalah keharusan.

Dan tentu saja, saat terbit berita headline di Jambi Independent “Wali Kota Jarang Ngantor” semua jadi gaduh. Sejauh yang saya tahu ketika itu, memang jarang (untuk mengatakan tidak ada) berita yang menyentil mu. Informasinya engkau marah. Sontak saja pejabat yang jadi narasumber di berita itu membantah bahwa program tak terbengkalai karena tugas wali kota sudah didelegasikan ke wakilmu Turimin (alm). Pun demikian ketika berita itu menjadi “serial” “Rame-rame Bela Wali Kota” , perasaan aku yang masih bau kencur seolah menjadi most wanted.

10 tahun menjadi wali kota dan sempat duduk di kursi dewan, saya yakin semua PNS di Pemkot Jambi tahu benar kepemimpinanmu Pak. Semua mengakuinya. Engkau disegani, dihormati bahkan mungkin ditakuti. Ada kharisma kepemimpinan.

Ketika musim pilkada langsung 2013 lalu,  saya berbincang dengan sejumlah PNS Pemkot Jambi. Kau tahu Pak, apa yang mereka sampaikan? Mereka rindu pemimpin berkharisma seperti mu. Bukannya menegasikan kekurangan yang ada pada mu Pak.

Sendiri

Dalam kehidupan pribadimu juga kepemimpinan mu sebagai wali kota, untuk sekian waktu engkau menjalaninya sendiri. Ah, ini bukan melow. Istrimu Nuridjah Nurdin lebih dulu berpulang. Ia tak lain kakak kandung Zulkifli Nurdin, Gubernur Jambi ketika itu.

Hingga pada 2006, engkau sudahi masa menduda. Maesita, perempuan  belia dari Jawa Timur engkau peristri. Seorang teman yang (eksklusif) sendirian menulis berita itu mengabari pernikahan itu. Ia sepertinya puas. Puas mendapatkan berita itu sendirian, juga puas bahwa wali kota bernama Arifien Manap kembali memiliki  pendamping.

Juli 2007, engkau  kembali kehilangan. Kali ini Wakil Wali Kota Turimin yang mangkat. Engkau pun sendirian menjalani peran sebagai eksekutif hingga jabatan berakhir pada akhir November 2008. Begitulah Pak, engkau yang ditinggalkan. Bukan ditinggalkan kerabat, orang dekat, teman dekat karena engkau bukan wali kota lagi. Tapi ditinggalkan pendamping di rumah tangga juga pendamping memimpin kota karena sang khalik memanggil mereka lebih cepat.

Kini, engkau yang mangkat di usia 70 tahun yang meninggalkan orang dekat mu,  juga kami tentunya. Selamat jalan Pak wali. Semoga Allah mengampuni dosa mu menempatkan engkau di tempat yang layak.

 

 

 

 

 

Sejarah Koran Lokal Jambi : Koran Stensilan Pun Tetap Dicari (2)

Sejak tahun 1958-an, satu persatu koran lokal Jambi bermunculan. Tapi, terkadang terbitnya tak rutin. Seiring waktu satu persatu berguguran, kecuali sedikit di antaranya.

DUA sumber utama yang saya ditemui, Asrie Rasyid dan Udin Thayib memberikan keterangan sedikit berbeda mengenai sejarah pers di Jambi. Perbedaan utamanya terletak pada waktu dan nama media.

Perbedaan itu misalnya, pada nama media lokal Jambi selain Harian Peristiwa. Menurut Asrie Rasyid yang mantan Kepala Kanwil Penerangan Jambi, pada waktu berdekatan terbit pula Harian Berita.

Udin Thayib mantan wartawan dan penyiar RRI Jambi ini menyebut media tersebut dengan nama Mingguan Berita. Namun, secara terpisah keduanya sepakat bahwa Pemimpin Redaksi media tersebut adalah Zen Alamsyah yang merupakan putra daerah Jambi.

Ditemui Tribun, Jumat pekan lalu Asrie mengatakan, selanjutnya pada tahun 1963-an terbitlah Warta Indonesia yang dipimpin oleh Rosmani Rauf. Keterangan Udin yang mantan wartawan dan penyiar RRI Jambi, media ini bernama Warta Nusantara.

Barulah setelah itu bermunculan koran lainnya. Ada Warta Massa, Ampera, Independent. Ampera dipimpin oleh Norman Toha, Warta Massa oleh Marpaung, dan Independent oleh Syamsul Watir.

“Ampera waktu itu dia menginduk ke SOKSI. Dulu tempatnya ada di samping Persijam,” ujar Asrie Jumat sore pekan lalu.

Hingga kini, sisa kejayaan Ampera yang tampak tinggal sebuah papan nama. Di Jalan Yusuf Nasri samping Stadion Persijam, Kota Jambi, sebuah plang nama Ampera masih terpajang. Meski usang, tulisannya masih bisa terbaca. Suratkabar ini memiliki slogan, Suara Orde Pembangunan.

Bertahannya koran-koran lokal ini memang bukan dari iklan seperti industri media sekarang. “Setiap media yang memiliki Surat Izin Terbit, mendapatkan subsidi harga kertas. Jadi lebih murah, dari situlah untungnya,” papar mantan koresponden Aneta itu.
Kendati diperbanyak stensilan, koran lawas tersebut diminati masyarakat. Abubakar Ahmad, anak seorang agen koran di era 1956 mengakui itu.

Menurut cerita Asrie, ayah Abubakar dulunya adalah agen koran terbesar di Jambi di masanya. “Tempatnya di depan Masjid Raya, toko buku Indonesia namanya,” imbuhnya.

Abubakar Ahmad mengatakan, pada 1956 ayahnya merupakan agen koran Pedoman milik Rosihan Anwar. Ia membantu ayahnya pada umur 12 tahun ketika duduk di kelas 6 Sekolah Rakyat (SR).

“Peminatnya mulai dari gubernur sampai tukang gerobak. Sayo tahu waktu kecil sayo yang urus koran,” ujar Abubakar yang ingat betul ketika itu Asrie Rasyid berlangganan Pedoman nomor 8.

Kini, seiring reformasi yang membuka keran demokrasi seluas-luasnya, media di Jambi berkembang pesat. Mulai dari media cetak hingga elektronik dan media online, termasuk Harian Tribun Jambi. “Pilihan masyarakat mulai beragam,” kata Asrie. (deddy rachmawan)

Pernah dimuat di sini

Apa yang Menjanjikan dari Kerinci ?

Sekepal tanah dari surga. Istilah itulah yang paling popular untuk menggambarkan keindahan Kerinci, satu kabupaten di barat Provinsi Jambi. Kabupaten yang dimekarkan menjadi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh.

Keindahan dan kekayaan alam Kerinci memang menggoda. Sebut saja perkebunan teh Kayu Aro yang disebut-sebut sebagai perkebunan teh terluas di Asia Tenggara. Entah apakah prediket itu masih akan disandang atau tidak seiring teh-teh tua di sana diganti dengan tanaman kopi. Kata pihak PTPN harga kopi sekarang lebih sedap ketimbang teh.

Perkebunan peninggalan Belanda itu berada di kaki Gunung Kerinci dan sekarang di bawah pengelolaan PTPN VI. Gunung Kerinci berada dalam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang baru saja dijelajahi oleh Kopasus pada Ekspedisi Bukit Barisan.

Dua hal itu yang paling popular dari Kerinci. Tapi jangan pula dilupakan Danau Kerinci, Danau Kaco, air terjun Telun Berasap, sumber air panas Semurup dan masih banyak yang lain. Atau tak elok pula mengabaikan khazanah kebudayaan di kabupaten paling Barat di Provinsi Jambi ini.

Di sini ada aksara incung, tari niti mahligai yang membuat penarinya kerasukan. Pun soal kentalnya magis di sini. Lalu, beberapa penemuan fosil di sana baru-baru ini mengindikasikan, peradaban di Kerinci telah lebih dulu ada dan termasuk yang tertua.

IMG_6766

Selain itu, ada kekayaan alam daerah berslogan Bumi Sakti Alam Kerinci ini yang belum banyak diketahui. Tapi, sudah jadi incaran bahkan oleh asing sejak beberapa puluh tahun silam. Emas. Sekarang, kilauan emas itu belum terksplorasi dan tereksploitasi.

Berada sebagai kabupaten terjauh dari ibukota provinsinya, jumlah penduduk Kerinci justru terbanyak kedua setelah Kota Jambi, ibukota Provinsi Jambi. Jumlah mencapai 237 ribu jiwa, sementara Kota Jambi sekitar 500 ribu jiwa.

Tingginya angka jumlah penduduk itu tak sebanding dengan luas wilayahnya. Menurut Pemkab Kerinci, wilayahnya dengan luas 380.850 hektare menempati urutan ketiga tersempit di antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Jambi. Dus, dari ratusan ribu hektare itu sekitar 50 persennya termasuk dalam areal Taman Nasional Kerinci Seblat. Artinya, di sana “haram” untuk digarap. Jadilah Kerinci semakin sempit. Ketika Idul Fitri tiba, uhang Kincai dari berbagai penjuru Indonesia, diaspora di luar negeri pulang ke kampungnya di Kerinci. Dan jangan heran, Kerinci yang kecil itu menjadi macet.

Kompas, pernah memberitakan, sembilan kabupaten di Provinsi Jambi serta Bengkulu, Sumbar, dan Sumsel mengusulkan pembangunan 32 ruas jalan menembus TNKS. TNKS memang berada di tiga provinsi di atas kecuali, Sumsel.

Masyarakat Kerinci dalam kaitannya dengan keberadaan TNKS berada di posisi sulit. Dunia meminta agar paru-paru dunia itu dijaga, pohonnya tak ditebangi. Itu sekaligus untuk menjaga ekosistem dan konservasi harimau Sumatera yang berdiam di sana.

Tapi, apa daya. Luasan Kerinci tak sebangun dengan pertambahan jumlah penduduk. Desakan ekonomi kadang memaksa warga setempat menggarap lahan. Seorang teman yang asli Kerinci mengatakan, mereka seolah-olah jadi tumbal dan berkorban untuk kelestarian dunia. Sementara mereka harus bertahan hidup dengan keterbatasan. “Dimana pemerintah?”.

Mengenai kerusakan TNKS dan alam Kerinci ini, mantan menteri Lingkungan Hidup Emil Salim ketika berkunjung ke Jambi sempat menyampaikan pandangannya. Bahwa, alam Kerinci telah rusak dan memberi ancaman bencana, tidak saja bagi daerah dengan gugusan Bukit Barisan itu.

Kini, sedang jadi perbincangan rencana pembukaan TNKS untuk jalur evakuasi bencana. Masyarakat terbagi dalam dua pendapat utama, yang setuju dan yang menolak.

Rumah-rumah penduduk di Kerinci didominasi rumah panggung. Ini sebagai siasat atas terbatasnya lahan di sini. Tuntutan ekonomi dan hidup, membuat banyak warga di daerah yang terkenal dingin ini hijrah, merantau,mengadu nasib.

Kompas melansir, tak kurang 1 juta jiwa penduduk Malaysia adalah orang Kerinci. Mereka beranak pinak sebagai pendatang resmi dan haram sejak abad 19. Jangan heran bila di sana ada kawasan bernama Kampung Kerinchi. Itulah mengapa bulan lalu muncul kontroversi ketika Pemkab Kerinci ngotot membawa (replika) peninggalan sejarah Kerinci ke Malaysia untuk dipamerkan di sana.

Saya kutipkan apa yang dimuat Kompas di halaman 23 pada hari tersebut.

Adalah Mukhtar (32) warga Kerinci yang telah lebih 10 tahun menetap di Selangor. Ia menilai kampung halamannya itu memang indah. Tapi, tanpa memiliki lahan garapan dia sulit mengembangankan penghidupan.

“Apa yang mau kami garap. Tanah tidak punya. Lowongan kerja juga sulit, Mau jadi PNS pun sulit karena penuh permainan oknum pejabat daerah,” ujarnya.

Pengakuan yang serupa, juga pernah disampaikan seorang teman asal Kerinci kepada saya. Maka, jangan heran Kerinci memang tak menjanjikan.
Dengan segala kekurangan yang timpang dengan kekayaan alam itu, wajar saja beberapa tahun lalu muncul keinginan warga Kerinci untuk berpisah dengan Provinsi Jambi. Beruntung,hal itu tak terwujud.
Seorang teman yang asli Kerinci di akun twitternya pernah berkicau soal status keistimewaan Kerinci. Itu disampaikannya ketika rebut-ribut soal keistimewaan DIY.

Kata dia, Kerinci istimewa karena secara geografis berada di titik yang unik. Lalu, bahasa daerahnya jauh berbeda dari bahasa daerah Jambi yang umum, Kerinci memiliki kekhasan budaya, itu di antara kicauannya. Tentu saja penetapan status istimewa bukan atas pertimbangan itu semnata.

Tapi jangan-jangan, warga Kerinci benar-benar telah lelah dan penat dengan keadaan di kampung halamannya. Seakan terisolir dan menjadi anak tiri. Kerinci yang (tak) menjanjikan, seperti apa kau nanti?

 

Sejarah Koran Lokal Jambi : PKI – Masyumi Bersama Terbitkan Koran (1)

 

Surat kabar terbitan ibukota lebih dulu hadir di Jambi ketimbang surat kabar lokal. Ada rentang waktu sekira lima tahun sejak koran ibukota masuk, sebelum media massa lokal Jambi terbit. Lalu apa koran pertama di Jambi?
Asrie Hidayat menyimpan banyak cerita. Utamanya mengenai keberadaan surat kabar di Jambi. Ia membagi cerita kepada Tribun dengan lugas.

“Yang nggak perlu jangan dipikirkan jangan jadi beban. Yang penting dan perlu saja,” ujarnya lantas tertawa. Menurutnya hal itulah yang menjadi resep ia segar secara fisik dan ingatan di usianya yang menyentuh 84 tahun.
Menurutnya, pada sekitar tahun 1953 koran- koran dari Jakarta dan Sumatera Selatan (sub dari Provinsi Sumatera) telah beredar di Jambi. Ia menyebut ketika itu, Star Weekly, Keng Po, Pedoman telah dibaca masyarakat Jambi walau masih kalangan tertentu. Sementara dari tetangga, telah ada surat kabar semisal Waspada.

ilustrasi. sumber merdeka.com
ilustrasi. sumber merdeka.com

Mengenakan kemeja warna putih, Asrie yang ditemui Jumat (3/2) mengungkapkan hal menarik mengenai kehadiran koran yang diyakini sebagai Koran pertama di Jambi. Koran ini menarik bila ditilik dari ideologi para pendiri dan semangat yang diusung sebagai nafasnya.

“Sekitar 1958-an itu ada Harian Peristiwa. Waktu itu, Pemimpin Redaksinya adalah Aminullah Alamsyah,” ungkap kakek dengan 16 cicit tersebut. Ia sendiri saat itu dipercaya sebagai redaktur.

Harian Peristiwa ketika itu, boleh jadi merupakan potret Indonesia mini yang dipersatukan oleh kebhinekaan. Di sanalah, orang-orang dengan latar belakang pemikiran berbeda bekerja sama untuk satu tujuan.

Harian Peristiwa didirikan oleh sebuah yayasan-Asrie mengaku tak lagi ingat nama yayasan dimaksud.

“Di yayasan itu ada orang dari berbagai partai. Ada PKI, Masyumi,” ungkap pria berlatarbelakang tentara tersebut.

Sudah menjadi pengetahuan umum kiblat dari dua partai berbeda haluan tersebut. Perbedaan ideologi, menurut Asrie, tak pula membuat konflik di antara mereka. Kata dia, nafas korannya saat itu satu. “Yakni bagaimana mewujudkan Provinsi Jambi,” kata pria asal Sumatera Barat yang telah lama menetap di Jambi itu.

Namun, pelaku sejarah pers Jambi lainnya, Udin Thayib (70) punya cerita lain mengenai Harian Peristiwa. Menurutnya surat kabar lokal Jambi tersebut hadir sekira tahun 1963. Mantan penyiar RRI tersebut bilang, di Harian Peristiwa juga ada staf kantor gubernur yang ikut membesarkan media tersebut.

Sayang, Asrie dan Udin yang ditemui secara terpisah tak memiliki dokumentasi koran lawas lagi bersejarah itu. “Zaman dulu, mana ada kamera. Masih barang langka,” kata Udin yang hingga kini menjadi penyiar khusus di RRI Jambi untuk siaran bahasa daerah.

Adapun Asrie Rasyid yang beberapa kali pindah tugas, mengaku membuat sejumlah dokumentasinya menjadi tercecer.

“Harian Peristiwa dulu berkantor di kawasan yang sekarang bernama Jalan Dr Wahidin, di kawasan Pasar Jambi. Ada dulu bangunan di depan studio Bali Photo, nah di sanalah kantornya,” ujar mantan koresponden Pers Biro Indonesia Aneta (PIA), mantap.

Kendati menyandang kata harian, bukan berarti Harian Peristiwa rutin terbit setiap hari. Masalah cetak kadang merupakan kendala utama. Ketika itu, surat kabar 4 halaman tersebut masih diperbanyak dengan cara stensil.

Telah diterbitkan di Tribun Jambi, terkait peringatan Hari Pers Nasional tahun 2012 yang diadakan di Provinsi Jambi

 

Dua Wajah dan Tiga Nama Sultan Thaha

Format Gambar

 

Maaf, bila judul di atas dirasa provokatif. Tapi, akan diperjelas di isi tulisan singkat ini. Adalah kebetulan sejarah bagi bangsa ini. Bahwa, peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan, waktunya relatif berdekatan. Tentu peristiwanya terjadi di tahun yang berbeda. Maklum saja, pemuda sejatinya amat lekat dengan semangat heroik dan perubahan. Karenanya tak heran, Bung Karno berujar, berikan ia sepuluh pemuda agar ia ubah dunia.

Pahlawan dan pemuda. Keduanya itulah yang ada pada sosok Sultan Thaha. Siapa pula itu Sultan Thaha? Bagi orang di luar Jambi, umumnya memang namanya tak sepopuler Cut Nyak Dien dari Aceh, atau barangkali tak sefamiliar Sultan Mahmud Badarudin yang gambar (reka) wajahnya menghiasi uang pecahan Rp 10 ribu.

Padahal keduanya, memiliki gelar yang sama, Sultan! Memang, kesultanan Jambi relatif kecil dan tidak penting pada abad kesembilan belas. Karenanya tak heran sejarawan kolonial generasi awal menyebut adalah nyaris suatu kebetulan bila Belanda “hadir” di Jambi pada 1830-an.

Namun kini, faktanya adalah Sultan Thaha merupakan pahlawan nasional dari Provinsi Jambi. Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui Kepres No.079/TK/Tahun 1977, tertanggal 24 Oktober 1977.

Dua wajah

Ini soal rekonstruksi wajah sang Sultan. Masalah yang juga “menimpa” deretan nama pahlawan di Nusantara. Bila ada (reka) wajah Sultan Thaha yang terpopuler, itu adalah sosok yang pecinya dililit surban. Dengan tipikal wajah bukan petak, sepasang alis datar menghias. Kumisnya tipis. Itulah rekonstruksi wajah Sultan Thaha seperti gambar master di laman ini.

Reka itu termuat di buku Delapan Raja-raja Pahlawan Nasional yang diterbitkan pada 1981. Semasa SD dulu, saya akrab menjumpainya di ruang kelas. Kini, gambar itu sepertinya nyaris susah didapati.

Sultan Thaha kini justru di-make over. Sang Sultan pun akhirnya memiliki “wajah baru”. Malah, wajah baru itu diabadikan menjadi patung  setidaknya di tiga tempat berbeda. Pertama patung wajahnya di Bandara Sultan Thaha, kedua patungnya dengan sebilah keris menjulang di halaman kantor Gubernur Jambi. Ketiga, ada di museum Pejuangan Rakyat Jambi. Patung sultan didampingi dua ekor harimau.

patung st thaha

Wajah yang kedua ini, mengesankan sang Sultan lebih gagah dan tegas. Kepalanya diikat dengan kain sejenis udeng. Itu soal wajah. Perbedaan juga terdapat pada penulisan nama pahlawan dari Jambi ini. Inilah penjelasan mengenai judul di atas.

Untuk Bandara misalnya, bandara di ibukota provinsi ini hanya memakai nama Sultan Thaha. Sedangkan perguruan tinggi agama yakni IAIN memakai, Sulthan Thaha Saifuddin. Malah, sejarawan Belanda Elsbeth Locher-Scholten  dalam Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial  menulis raja kesultanan Jambi itu menjadi Sultan Taha Safiuddin. Padahal bila kita merujuk SK penetapan beliau menjadi Pahlawan  Nasional adalah “Sultan Thaha Syaifuddin”. CATAT! SULTAN THAHA SYAIFUDDIN.

Perjuangan Sedari Muda

Usia Sultan Thaha masih belia ketika dinobatkan sebagai sultan. Ada yang menyebutnya lahir pada 1833 dan menjadi sultan diusia muda, yakni 22 tahun. Thaha menjadi sultan Jambi pada Oktober 1855 setelah sultan sebelumnya Sultan Nazaruddin wafat.

Dalam catatan kaki bukunya, akademisi dari Belanda ini mendasarkan tahun kelahiran Thaha di antaranya pada  Laporan saran Dewan Hindia Timur Belanda, 29 Januari 1858. Berbeda dengan ayahnya, Sultan Fachruddin, Sultan Thaha justru memperlihatkan perlawanan secara frontal kepada Belanda.

Pada 1834, ayahnya menandatangani kontrak kerjasama dengan Belanda. Adapun Thaha, sebagaimana disebut Scholten, justru memakai taktik mengelak dan menghindar kontrak.  Thaha bahkan menolak semua pasal yang membatasi kekuasaan sultan.

Junaidi T Noor, sejarawan dari Jambi menyebut Thaha berpantang berhadapan muka dengan Belanda. Residen Palembang, PF Laging Tobias pada 1881 mendeskripsikan Thaha sebagai orang yang energik lagi bertempramen panas. Ia diluar “kebiasaan” Jambi yang lamban.

Karenanyalah Sultan Thaha adalah musuh utama kolonial Belanda ketika itu, walaupun secara formal kekuasaan Thaha berakhir pada 1858. Tapi kurang lebih 40 tahun ia berjuang di belakang layar sebelum akhirnya mangkat pada April 1904.

Sebagai sultan muda, dalam melawan Belanda ternyata Sultan Thaha mencoba membuka jejaring ke sultan Turki. Sebuah terobosan yang boleh jadi belum dicoba oleh para pendahulunya. Ibu Sultan Thaha yang keturunan Arab menurut Scholten memberi andil soal keputusan sultan muda ini untuk meminta dukungan diplomatik dari kesultanan Turki.

Langkah ini, pada 1873 diikuti pula oleh kesultanan Aceh. Lantas apa reaksi Turki? “Pihak penerima bersikap seolah-olah surat itu tidak pernah ditulis.” Demikian Scholten. Toh, boleh saja Scholten berpendapat demikian. Namun saya teringat ketika menulis tentang koleksi museum negeri Jambi (Kini Museum Siginjei), beberapa tahun lalu.

Di sanalah ada koleksi yang dinamakan kalung bintang kerjora. Kalung dengan bentuk menyerupai matahari terbit dengan pancaran sinarnya itu disebut sebagai hadiah dari Khalifah Ustmani di Turki untuk Sultan Thaha yang mengirim utusan untuk meminta bantuan ke Turki.

Dua wajah, perbedaan tahun kelahiran Sultan Thaha, “polemik” repson Turki atas permintaan Thaha, adalah bagian dari perdebatan sejarah. Mereka yang menuliskan sejarah tersebut tentu telah melengkapi bukti atas hipotesa yang dibangun.

Apapun itu, sejarah para pahlawan di nusantara harus jadi ingatan kolektif untuk kemudian dijaga dan ditauladani. Selamat Hari Pahlawan. Renungilah kata Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Tulisan lawas saya di Kompasiana dengan perubahan minor