Siapa Sudi Sekolahkan Anak di Sekolah Gratis

Siswa SD Insan Madani saat salat. Sumber: FB SD Insan Madani
Siswa SD Insan Madani saat salat. Sumber: FB SD Insan Madani

Ibnu Isnaini, seorang pegiat sosial, geleng-geleng kepala. Ia seakan tak percaya, sebuah kebaikan yang diberikan tulus, tak bersambut. Tawarannya untuk mengajak masyarakat miskin agar anaknya disekolahkan gratis tak berbalas.

Padahal ia harus berburu dengan waktu. Sudah ada murid sebelum sekolah di tahun ajaran baru yang lalu dimulai. Apatis. Kata itu mungkin ekspresi sejumlah warga miskin yang ditemui Ibnu. Sebuah pernyataan sekaligus ikrar bahwa apa yang digadang-gadang pemerintah bagi rakyat miskin, tak semulus dan sebagus kenyataanya. Gratis di slogan, harus membayar kemudian.

Beruntung, Ibnu dan kawan-kawan dimudahkan. Sekalipun harus mengajak tokoh masyarakat untuk meyakinkan kaum dhuafa tersebut agar mau memberikan hak pendidikan bagi anaknya, ketimbang dieksploitasi dengan bekerja. Ibnu, ia pegiat di Rumah Sosial Insan Madani (RSIM), sebuah Lembaga Amil Zakat di Kota Jambi.

“Mereka bilang nanti gratis di awal ujung-ujungnya bayar juga,” ucap Ibnu menirukan orangtua yang ditawari agar anaknya di sekolahkan di sekolah milik RSIM, SD Insan Madani.

Sempat susah di awal, kini ada 15 siswa anak orang miskin yang bersekolah di SD Insan Madani. Dalam masa pendaftaran, bahkan jumlah yang mendaftar jauh lebih banyak. RSIM tetap memberlakukan seleski untuk anak-anak calon pemimpin masa depan itu. Wajar saja, itu terkait kemampuan dana termasuk memilih anak dan orangtua yang benar-benar berniat menyekolakan anaknya. Karena RSIM sejatinya mengelola dana umat. Mereka tentu tak ingin dana umat yang dikeluarkan itu sia-sia ketika tiba-tiba orangtua menarik anaknya dari sekolah itu.

Adalah RSIM yang dulu bernama Pondok Zakat. Ditahunnya yang keempat, kini lembaga zakat itu mendirikan sekolah dasar untuk anak miskin. Mereka disekolahkan gratis tanpa dipungut biaya apapun. Dana dari para muzaki, donatur, dermawan jadi dana untuk membiayai operasional sekolah yang baru berdiri itu. Operasional itu tentu untuk membeli keperluan siswa, gaji guru dan lainnya.

Beruntung, RSIM bisa memiliki bangunan yang dipinjamkan secara gratis, sehingga tak banyak cost yang dikeluarkan. Kelimabelas siswa SD Insan Madani, sejak awal oleh RSIM diberi gratis perlengkapan sekolah. Mulai dari alat tulis, buku, termasuk tiga pasang seragam dan sepasang sepatu. Semua diberikan untuk satu tahun. Adapun buku-buku pelajaran dipinjamkan karena kelak diwariskan untuk adik kelasnya. RSIM dan lembaga serupa harusnya memang menjadi oase. Menjadi alternatif bagi mereka yang tak mampu dan tak tersentuh tangan pemerintah. Termasuk memberi pencerahan kepada masyarakat, minimal dengan ajakan halus mari peduli. Peduli dengan sekitar kita.

Ibnu bercerita. Ketika mereka sedang mencari siswa, sejumlah orang di suatu wilayah melihat mereka sebelah mata. Mereka bahkan mempertanyakan, bagaimana ongkos untuk si anak berangkat ke sekolah, sementara orangtuanya memberikan uang saku saja susah. Para pegiat yang masih muda-muda ini membalikkan logika masyarakat tersebut. Mereka menggugahnya. “Mengapa tidak masyarakt di sini bersama-sama membantu, toh si anak benar-benar orang miskin.?

Syahdan, akhirnya masyarakat setempat bergotong royong, urunan untuk membayar ongkos ojek untuk mengantar si anak. Kebetulan tempat tinggal si anak jauh dari SD Insan Madani. Di tengah karut marutnya negeri ini. Di saat banyak kritik terhadap pemerintah dalam memenuhi hak dasar warganya;  melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, RSIM telah mengambil peran. Saya yakin, tentu di tempat lain peran serupa juga telah ada yang menanganinya.

Postingan lawas di Kompasiana, 8 Agustus 2011

 

Hermanto, Imam Sunyi Suku Anak Dalam

Sunyi adalah teman akrab di permukiman yang dihuni 48 kepala keluarga Suku Anak Dalam (SAD). Sebuah dusun bernama Lubuk Kayu Aro, Desa Pelempang, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Dan sunyi itu dirasakan berlipat oleh Hermanto. Ialah Imam sunyi di permukiman Suku Anak Dalam tersebut, suku yang termarjinalkan. Terpinggirkan oleh masyarakat, pemerintah atau oleh mereka sendiri. Mungkin.

Dan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Like father like son. Itu teramat cocok disandang oleh lajang 24 tahun ini. Namanya cuma satu kata, Hermanto. Tapi kata-katanya didengar oleh komunitasnya, Suku Anak Dalam (SAD) Lubuk Kayu Aro.

Hermanto adalah pemuda Suku Anak Dalam pimpinan Temenggung Soleh. Ibu Hermanto seorang Suku Anak Dalam, dan merupakan anak Temenggung Soleh. Almarhum Bapaknya orang Batanghari dan seorang ustad.

Iman tak dapat diwarisi, tapi mungkin darah pendakwah bapaknya menurun, mengalir pada Hermanto. Dan Hermanto memilih jalan sebagai seorang yang berkhidmat pada syiar dan pendidikan agama Islam bagi Suku Anak Dalam Lubuk Kayu Aro, Desa pelempang, Muaro Jambi.

Dan jadilah ia imam sunyi Suku Anak Dalam, imam yang acap tanpa makmum. Sendiri! Benar-benar sendiri.

Saya mengenalnya ketika ditugaskan meliput bagaimana SAD yang sudah memeluk islam tersebut menjalani Ramadan mereka, akhir Juli lalu. Hermanto adalah narasumber primer yang harus saya gali informasi darinya. Terutama tentang persentuhan mereka dengan Islam.

Akhir Juli lalu, walau cuma sehari semalam, jadilah saya dan seorang rekan bermalam membersamai suku yang masih banyak menetap di hutan-hutan di Jambi.

Dan kesunyian bagi Imam muda itu tampak di siang itu. Dzuhur sudah di waktunya. Di masjid tanpa pelantang, Hermanto mengumandangkan azan. Kesunyian tak lantas pecah. Panggilan sholat dari Hermanto kalah oleh senyap.

Tak ada yang datang ke masjid berukuran 10 x 10 meter siang itu. Praktis, cuma kami bertiga. Sholat pun didirikan. Itu bukan sekali dua, terjadi. Sebagai orang yang didapuk sebagai imam masjid di sana, mau tak mau harus dijalaninya sekalipun tanpa makmum.

Kala Subuh, warga SAD yang sudah mengenakan pakaian itu kadang masih tertidur atau berangkat menyadap karet. Saat Dzuhur, mereka masih di kebun. Lalu letih ketika Asar memanggil dan sesekali saat salat Magrib atau Isya.

Beruntung saat Ramadan, tarawih tetap didirikan. Walau kadang jumlah jemaah sangat sedikit. “Delapan rekaat saja susah, apalagi 23,” kata Hermanto menyoal sepinya jemaah.

Selain imam, Manto juga menjadi guru bagi anak-anak SAD. Ia kerap mengajar agama dan baca tulis. Ia lah yang jadi pengganti ketika ustad yang rutin member mereka ilmu, tak dapat hadir.
Pendidikan formal yang dirasakan Manto hanya setamat SD. Lainnya ia merampungkan Paket B. “Tapi tak nambah wawasan,” akunya.

Sekilas Lubuk Kayu Aro
Dusun Lubuk Kayu Aro, Desa Pelempang sejatinya sangat dekat dengan jalan arteri. Jalan arteri itu adalah jalan lintas Jambi-Palembang. Hanya 5 km jarak kampung itu dengan jalan itam-begitu SAD menyebut jalan beraspal tersebut.
Desa yang masuk Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi itu sangat minim dari akses pelayanan social dasar. SD terdekat 4 km, air bersih susah kecuali dari sungai kecil, puskesmas terdekat 7 km.

Persentuhan SAD
Persentuhan SAD Lubuk Kayu Aro dengan dunia luar salah satunya ketika ada program Departemen Sosial ketika dipimpin Mbak Tutut. Pada 1998, di desa itu diadakan program sosial, membangun rumah dan pendidikan bagi SAD.
Jauh sebelum itu, pada 1986 beberapa orang dari SAD memeluk Islam. Hingga pada akhirnya, Kepala Desa Pelempang ketika itu meminta ustad untuk berdakwah di sana. 26 tahun sudah mereka bersama Islam, tapi pengetahuan mereka akan agama yang dibawa Rasulullah masih minim. Praktik kewajiban keagamaan pun kerap alpa. Dan jadilah Hermanto muda menjadi imam sunyi.

*Foto koleksi pribadi. Foto Orang Rimba di TNBD, bukan SAD Lubuk Aro

Menapo dari Jambi untuk Indonesia

Saya lupa bila September ini (saat tulisan ini dibuat) tepat 11 tahun wafatnya aktivis HAM, Munir Said Thalib. Status sejumlah teman di media sosial yang mengingatkan saya tentang pekerjaan rumah Negara ini untuk merampungkan ujian sejarah tersebut.

Bukan cuma gelapnya kematian suami Suciwati sang perempuan tangguh itu yang kemudian melintas di pikiran. Saya kemudian justru teringat sebuah tulisan Eep Saefulloh Fatah di rubrik bahasa di sebuah media nasional. Bisa saja untuk menemukan tulisan dimaksud saya mengandalkan mesin pencari. Tapi saya masih ingat bahwa di tulisan itu Eep mengusulkan agar nama “Munir” juga sastrawan “WS Rendra” menjadi kosakata bahasa Indonesia. “Munir” juga “Rendra” diusulkan menjadi kata sifat yang merujuk pada kiprah yang tampak pada keduanya.

Maka saya sebagai pengguna bahasa Indonesia yang melekat pada saya primordial kedaerahan ingin pula mengusulkan satu kosakata baru. Sebagaimana Eep, saya juga punya alasan logis atas usul itu. Saya tidak sedang membawa ego kedaerahan membabibuta.

IMG_6606

Jambi. Ya, provinsi tempat saya bermukim ini sesungguhnya kiprah di pentas nasional tidaklah segegap provinsi tetangga. Kendati demikian mungkin tak banyak yang tahu bahwa di sinilah terdapat situs percandian terluas di Asia Tenggara. Situs percandian Muarajambi.

Di forum ini saya ingin ajukan Tanya (Inti tulisan ini pernah diposting sebagai status di wall Facebook saya). Apa istilah arkeologi untuk menyebut gundukan tanah yang di bawahnya terdapat struktur candi? Untuk mendapat jawabnya saya mencoba bertanya pada arkeolog Bambang Budi Utomo. Beliau termasuk arkeolog yang intensif meneliti situs yang diyakini pernah menjadi pusat pembelajaran agama Budha di masanya.

Baca: Ketika Alat Berat Menggerus Menapo Muarajambi

Bambang mengatakan tidak ada istilah baku dalam ilmu arkeologi untuk menyebut gundukan tanah yang di bawahnya terdapat struktur candi. Masyarakat Muaro Jambi, utamanya di sekitar situs Muarajambi mengenal kata “menapo” (atau napo) untuk menyebutnya. Menapo yang merupakan kosakata “endemis” Muaro jambi artinya adalah hewan seperti kancil. Konon, dulu masyarakat setempat acap melihat hewan ini berlari ke gundukan tanah yang menimbun bangunan candi, sehingga muncullah istilah menapo untuk menyebut tanah yang ada struktur candi di bawahnya.

Menurut Bambang, istilah yang artinya sama dengan menapo berbeda-beda di tiap daerah. Di Dharmasraya dikenal dengan “munggu”, di Karawang dikenal istilah “unur”. KBBI memuat lema “munggu”. Saya cuplikan artinya munggu adalah longgok (timbunan) tanah di tengah sawah; bukit kecil; karang yangg membukit. Dari arti itu, jelas “munggu” tidak mendefenisikan bahwa di bawah timbunan tanah terdapat struktur candi.

Berangkat dari situlah saya ajukan usul agar kosakata “menapo” bisa untuk dibakukan menjadi bahasa Indonesia untuk menyebut gundukan tanah berisi candi tersebut. Setidaknya, dengan keistimewaan situs Candi Muarajambi yang terluas di Asia Tenggara (lebih dari 2.612 ha), masuk daftar warisan dunia, bisa menjadi pertimbangannya. Sekaligus agar bangsa ini tak lupa, ada kearifan peradaban masa lalu di tanah jambe yang perlu terus digali. Setuju?

Minyak Tempino yang Menggoda Belanda

 

Jalur pipa minyak Tempino-Palembang tak hanya membentang ratusan kilometer. Tapi kisahnya juga terbentang ratusan tahun, mengalir melintasi berbagai zaman.

Jalur minyak Tempino di Jambi, menuju Plaju di Sumatera Selatan kembali jadi perbincangan. Penyebabnya, penghentian distribusi minyak melalui jaringan itu, sejak beberapa hari lalu. Adapun pemicunya, apalagi kalau bukan illegal tapping.

Ini bukan yang pertama. 2 Juli tahun lalu, hal serupa juga dilakukan Pertamina menyusul semakin maraknya aksi pencurian minyak dengan melubangi pipa yang dibenamkan ke tanah tersebut.

Pencurian minyak di jalur pipa Tempino-Palembang memang gila-gilaan. Saya yang mengonfirmasi Humas Pertamina EP, Agus Amperianto mendapatkan informasi bahwa tiap tahunnya aksi itu meningkat hampir 200 persen. Negara merugi hingga miliaran rupiah.

Upaya penangkapan pelaku pencurian minyak, penggerebekan gudang penyulingan, tak mangkus. Belum lagi kabar  adanya oknum aparat yang terlibat. Butuh upaya lebih dari itu untuk mengamankan objek vital Negara tersebut. Dan itulah yang dikehendaki Pertamina!

Tempino berada di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Keberadaan minyak di sini, sudah diincar pada akhir 1880-an. Itu artinya sudah sejak 133 tahun lampau.

Sejarawan Belanda, Elsbeth Locher-Scholten dalam bukunya “Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial” bahkan membuat bab tersendiri “Minyak” yang membahas keberadaan minyak di Palembang dan Jambi. Kupasan soal minyak itu ia tegaskan kembali di Epilog bukunya tersebut. Kendati kemudian bukanlah minyak yang memakmurkan Jambi, melainkan karet.

Ketimbang minyak Tempino, Belanda lebih dulu mengeksplorasi di Palembang. Jean Baptiste August Kessler, Direktur Koninklije pada awal 1890-an mengumpulkan izin eksplorasi di sana sebanyak-banyaknya. Koninklije adalah perusahaan Kerajaan Belanda untuk eksplorasi sumber minyak di Hindia Timur Belanda.

 

Minyak tak mengenal sekat administratif daerah. Eksplorasi di Palembang itu terus mengarah ke perbatasan Jambi. Namun tak mudah bagi Koninklije dan perusahaan lain yang mengincar minyak Jambi. Pada 1891 menantu Sultan Thaha yakni Pangeran Prabu Negara menerbitkan izin eksplorasi. Tapi, pada tahun yang sama pemerintah kcolonial menolak permohonan izin eksplorasi awal.

Formalnya, pemburu ladang minyak berhak membuat kontrak dengan pemerintah swapraja lokal menurut kontrak 1888 dengan Jambi, tapi tetap saja kontrak yang sama mengehendaki mereka mendapat persetuuan pemerintah Belanda. Ini tekait masalah keamanan. Sikap Belanda itu tak lain adalah upaya untuk memperoleh hak tunggal. Motif monopoli Belanda itulah  yang membuat minyak Jambi ketika itu tak langsung disedot.

Menurut Elsbeth Scholten, setelah prosedur yang bertele-tele dan memakan waktu lama itu, baru pada 1920-an, penambangan minyak Jambi terlaksana. Jaringan pipa pertama yang mengalirkan minyak dari Jambi ke Palembang akhirnya dibuka tahun 1923.

Dan, dari pipa berusia 90 tahunan itulah kini masyarakat mencuri minyak Negara. Menurut Agus, baru pada 17 Juli 2013 lalu pipa sepanjang 265 kilometer tersebut diremajakan.

 

Dalam Memorandum Pelepasan Jabatan (Memories van Overgrave/MvO) JRF Verschoor van Nisse, seorang Residen Palembang-Jambi 1928, juga memuat laporan itu. Dia menulis, pada 1930 ladang minyak terbaik adalah Bajubang, Tempino dan Kenali Asam. Saya pernah membaca tulisan, bahwa minyak Tempino dan Bajubang inilah yang pernah dipakai sebagai bahan bakar oleh pesawat yang disumbangkan oleh rakyat Aceh pada zaman perjuangan kemerdekaan.

 

Dulunya, minyak Tempino juga Bajubang dan Kenali Asam ditangani oleh Perusahaan Minyak Bumi Batavia (BPM) dan NIAM (Perusahaan Minyak Bumi Hindia Timur). Yang disebut pertama merupakan perusahaan patungan antara Koninklije dan Shell.

Mengenai penyebutan Tempino atas minyak dari ladang-ladang tersebut dengan pertimbangan  di sana terdapat pusat penampung produksi atau P3. Dari P3 itulah minyak dipompa untuk disalurkan ke kilang di Plaju.

Sejarah pun berulang. Di tengah penjarahan minyak di pipa Tempino-Palembang yang merugikan Pertamina Rp 17,5 miliar dalam sepekan, SKK Migas sempat tak mengakui produksi minyak di jalur ini. Jumlah minyak yang dicuri tak masuk dalam hitungan produksi.  Imbasnya, Pertamina kesulitan memenuhi target produksi yang ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran 2013.

Tempo dulu juga begitu. Karena disalurkan ke Palembang, minyak Jambi tak dihitung dalam angka eskpor regional, tapi masuk dalam catatan Palembang. Scholten yang menyitat Touwen dalam “Voordeel van veelzijdigheid: De economische ontwikkeling van Palembang en Djambi tussen 1900 en 1938” mengungkap data kontribusi minyak Jambi itu. Adapun di masa kini, sejumlah komoditas dari Jambi, CPO, slab karet, tak jarang dibawa ke pelabuhan di Palembang untuk kemudian diekspor.

Dari total jenderal produksi minyak Hindia Timur, sumbangan minyak Jambi hanya 0,4 persen pada 1925, lalu 3,4 persen (1930), naik jadi 6,1 persen (1935). “Baru pada 1938 Jambi mulai memberi sumbangan signifikan bagi perekonomian Hindia Timur, yaitu 14 persen dari total produksi minyak,” tulis Scholten.

 

Tak heran bila kemudian hal itu tak memberi kontribusi bagi Jambi selaku rahim yang mengeluarkan minyak. Kondisi yang sempat dikeluhkan oleh Residen VE Korn. Ia bilang, tak satu sen pun dari keuntungan dua juta gulden yang diraup perusahaan-perusahaan minyak pada 1935 masuk ke Jambi.

 

Kini, hampir seabad kemudian Negara dan mungkin Jambi kembali dirugikan dengan maraknya pencurian minyak tersebut. Mau tahu jumlah kasus illegal tapping di jalur ini? Pada 2009, Pertamina EP mencatat 19 kasus. Lalu menjadi 131 kasus di 2010, menggelembung 420 kejadian (2011), 810 kasus (2012). Dan jangan kaget di Juli 2013 ini sudah 600 kejadian pencurian minyak terjadi. Masih ada lima bulan lagi tersisa. Jika Pertamina kembali menghidupkan jalur Tempino-Palembang, akhir tahun kita tinggal geleng-geleng kepala melihat angkanya. Siapa bertanggung jawab?

*Tulisan ini lebih dulu diposting di blog saya di Kompasiana (01 August 2013)

 

Uji Nyali Menuju Pulau Berhala

SIAPA sangka jumlah pengunjung Pulau Berhala mencapai ribuan orang dalam sehari. Itu hanya terjadi saat Idulfitri tiba. Lebaran adalah peak season bagi pulau yang masih diincar oleh Pemprov Kepri itu.

Orang-orang berjejal di pantai dan jalan setapak di pulau itu. Sehingga pulau kecil itu sangat padat. Demikian penuturan Kepala Dusun Berhala, Kecamatan Sadu, Junaedi kepada Tribun yang menyambanginya sejak Rabu (12/10) lalu. Saking padatnya menurut Junaedi, untuk berjalan di jalan setapak yang ada sangat susah.

Salah satu sudut pulau berhala
Salah satu sudut pulau berhala

Mereka umumnya adalah pengunjung dari Muara Sabak, Nipah Panjang, Sadu, dan Kota Jambi. Bukan perkara sulit bagi warga sekitar Pulau Berhala untuk menuju pulau itu, kehidupan mereka yang berada di tepi pantai atau daerah perairan membuat akses ke sana tak jadi soal. Tapi bagaimana pengunjung dari Kota Jambi bisa menuju ke pulau berpasir putih itu?

Pertanyaan itu pula yang mungkin ada di benak Anda yang hendak berwisata ke sana. Maklum saja, tidak ada angkutan umum air yang secara rutin mengangkut penumpang ke sana, dengan rute pergi-pulang.

Solusinya adalah mencarter speedboat atau pompong nelayan setempat. Rute yang umum ditempuh adalah Ancol, Kota Jambi ke Sungai Itik atau Sungai Lokan, Kecamatan Sadu, Tanjabtim lalu ke Pulau Berhala. Atau bila tak dari Ancol bisa pula bertolak dari Suak Kandis, Kabupaten Muaro Jambi.

Siapkanlah uang hingga jutaan rupiah. Untuk berangkat dari Suak Kandis, misalnya. Untuk mencarter speedboat ke Sungai Itik atau Sungai Lokan, Kecamatan Sadu Anda harus merogoh kocek hingga Rp 600 ribu. Bila beruntung, harga itu bisa turun jadi Rp 500 ribu.

Dari Ancol pun tarif sewa yang Anda keluarkan untuk menuju Kecamatan Sadu relatif sama. Atau ikut speedboat regular yang hanya dikenakan ongkos Rp 55 ribu. Tapi, risikonya Anda harus menunggu angkutan penuh.

Dari Sadu, untuk menuju Pulau Berhala bila ingin jarak Anda tempuh dalam waktu satu jam, bisa mencarter speedboat. Tapi risikonya, pakaian akan basah kuyup lantaran speedboat itu berbadan kecil. Risiko lainnya, perut akan melulu terguncang akibat benturan ombak dengan bagian bawah speedboat.

Agar sedikit lebih nyaman, baiknya Anda menumpang pompong dengan biaya carter sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Itu apabila Anda menginap untuk satu atau dua malam. Empunya pompong akan setia menunggu bahkan menemani.

Perjalanan melewati Selat Berhala adalah perjalanan menguji nyali. Terlebih bila Anda menumpang speedboat. Ditambah pula  ketiadaan pelampung sebagai pendukung keselamatan transportasi laut. Akumulasi tersebut ditambah ombak yang terus bergulung menggoyang angkutan menimbulkan waswas.

Tapi beruntung para nelayan yang menyewakan perahu cepat atau pompongnya tak juga asal angkut penumpang. Mereka tetap memperhatikan petunjuk alam. Mereka akan memperhatikan arah angin, musim angin, tak lupa cuaca.

Laut sudah jadi bagian hidup yang tak terpisahkan sehingga mereka akrab menafsiri pertanda alam itu, apakah layak ke laut atau menunggu untuk sementara waktu.

Kunal yang bernama lengkap Hasnal Muthalib, pemilik pompong yang Tribun sewa mengatakan, Oktober ini adalah musim angin tenggara. Itu artinya, angin tidak kencang dan ombak tak pula besar.

“Tapi kalau Agustus itu angin utara, ini ombak tinggi, tak berani kite ke laut,” kata Kunal yang hanya berbekal pakaian di badan serta dua bungkus rokok saat mengantar Tribun bermalam di Berhala.

Menurutnya, pertukaran angin terjadi dalam waktu dua bulan sekali. Hanya saja ia mengatakan, walau sedang musim angin tenggara bukan berarti ribut (istilah masyarakat setempat menyebut angin kencang) tidak muncul.

Butuh waktu sekira setangah jam bagi saya untuk menyesuaikan keadaan di laut. Kerasnya suara mesin disel pompong, dan ombak yang terus mengguncang baru bisa dinikmati sebagai warna-warni perjalanan 30 menit setelah bertolak dari Sungai Itik.

Laut lepas langsung kita temui setalah 10 menit bertolak dari Sungai Itik. Di kejauhan Pulau Berhala terlihat samar-samar. Memasuki laut, kumpulan burung camar mengikuti laju pompong dari belakang. Mereka berebut ikan yang terempas ke atas permukaan air karena tolakan baling-baling.

Semakin jauh pompong melaju, berangsur burung camar menghindar. Itu artinya, Pulau Berhala semakin dekat. Semakin besar wujudnya terlihat, kencangnya ombak segera terlupa berganti bayangan indah pasir putih dan bebatuan besar yang mengelilingi Pulau Berhala.

Tulisan ini telah terbit di Tribun Jambi

Serial dari tulisan ini bisa dibaca di sini